Tuesday, November 24, 2009

Rokok vs Kentut

Rokok, siapa tak kenal kata ini. Bahkan bagi Anda yang tidak merokok sekalipun, saya yakin anda ngga pernah terlepas dari rokok. Dimanapun, ya, dimanapun kita berada, PASTI ada yang merokok. Yang merdeka mengepulkan asapnya ke udara bebas. Lebih-lebih mereka yang dengan bebasnya merokok tanpa peduli bahwa asapnya mengganggu orang lain.

Di jalan, di angkot, di mall, di kantor, di warung, di restoran, di tempat-tempat umum lainnya, bahkan di rumah tinggal.
Survey pernah membuktikan bahwa 90% pria di Indonesia merokok atau pernah merokok. Wanita? Katakanlah 30-40% karena jaman sekarang ini semakin sering kita melihat wanita yang (ikut-ikutan) merokok.

Termasuk pula di lingkungan gereja. Saya adalah orang yang senang berpindah-pindah gereja sekedar untuk mencari pergantian suasana tiap minggu atau tiap 2 minggunya. Dan di semua, ya, semua gereja yang pernah saya datangi selalu ada juga orang Katolik yang merokok.
Masalah?
Tidak. Saya katakan sekali lagi TIDAK! Tidak masalah sama sekali.

Saya justru senang kalau banyak yang merokok. Merokoklah sebanyak-banyaknya, sebanyak yang anda mau, sebanyak yang Anda suka. Sebanyak yang anda mau tapi tidak semua anda. Kenapa? Silakan baca lebih lanjut.

Mengapa saya senang bila banyak yang merokok? Walaupun saya bukan perokok, yaa..pernah sih, nyoba-nyoba, sekedar pengen tahu, sekedar sok gaya, but anyway, Jelas donk saya senang bila banyak yang merokok… Rokok itu menguasai hajat hidup orang banyak. Banyak sekali. Pernahkah anda bayangkan berapa jumlah orang yang hidup dari rokok? Mulai dari petani tembakau, petani cengkeh, pengepul / bandarnya, boss pabrik rokok, para petinggi pabrik rokok, para karyawan pabrik rokok, buruh-buruhnya, buruh angkut, distributor, pegawai distributor, agen, pegawai agen, toko, pelayan toko, hingga pedagang asongan, buuuaaaanyak sekali orang yang hidup dari rokok dan segala bisnis yang terkait dengannya besar maupun kecil.

Belum lagi teman saya yang punya pabrik spare part mesin pabrik rokok. Anda tahu betapa banyaknya spare part pabrik rokok yang dibutuhkan tiap bulannya? Pokoknya, kawin 600 juta, ngga masalah. Atau teman saya yang langganan bikin iklan rokok. Anda pasti tahu jargon “Bukan Basa-Basi”? Hanya gara-gara 3 kata-kata ‘ajaib’ itu, dia mendadak kaya raya. Atau oom saya yang spesialis bedah jantung, kateter, dan by pass. Anda tahu berapa pasiennya tiap bulan yang operasi? Dan hampir semuanya perokok? Atau oom dari oom saya yang lain, yang spesialis bedah. Tidak terhitung lagi operasi tumor/kanker paru-paru, yang lagi-lagi hampir semuanya perokok. Belum lagi teman saya yang hipnoterapist, lebih dari 50% pasiennya ingin di terapi berhenti merokok.
Bahkan yang mau berhenti merokok pun masih menghasilkan uang.

Rokok bahkan mampu menguasai satu kota hampir secara mutlak. Dalam sebuah seminar, pernah saya diceritakan, pabrik rokok Gudang Garam, di Kediri, (cmiiw) di demo oleh buruh dan karyawannya. Lalu tanggapan boss besarnya, “kalo memang tidak mau kerja lagi, ya sudah, pabrik saya tutup sekarang juga” sontak seluruh pendemo kebingungan. Dan pabrik benar-benar ditutup satu minggu. Apa yang terjadi? Seluruh kota Kediri mati suri. Karena sebagian besar penduduk, menjadi karyawan di pabrik tersebut. Karena tidak ada pekerjaan, otomatis tidak ada penghasilan, tidak bisa belanja, semua toko di kota itu kehilangan pelanggannya. Warung-warung makan di sekitar pabrik mendadak sepi. Anda bisa bayangkan pabrik rokok tadi sudah menjadi jantung kehidupan kota itu. Begitu jantungnya berhenti, seluruh kehidupannya ikut mati. Sampai-sampai bupati / walikota Kediri datang sendiri menghadap boss besar dan meminta pabrik untuk dibuka kembali.

Sekarang coba kita hitung-hitungan, penduduk Indonesia 240jt. Anggap pria : wanita 50:50. 90% pria merokok, 30% wanita merokok. Berarti ada 108 juta pria dan 36 juta wanita perokok. Total 144jt perokok. Bila seorang perokok merokok 5 batang saja dalam 1 hari, 720 JUTA batang rokok dihisap dalam
1 hari. Bila sebatang rokok 500 perak, 360.000.000.000. bacanya 360 milyar rupiah DIBAKAR tiap hari, kali 365 hari (1 tahun) sama dengan
131.400.000.000.000, its seratus tiga puluh satu TRILYUN empat ratus MILYAR.
Setara 15% APBN kita ya?! Kalo duitnya seratus ribuan semua, ditumpuk,
tingginya setara dengan jarak Bandung-Jakarta lewat cipularang. Fantastico !! Padahal rata-rata teman, kenalan, saudara saya yang merokok, rata-rata bisa 1 bungkus (16 batang) dalam sehari. Dan saya tahu harga sebatang rokok sudah diatas 500 perak. Apalagi harga ketengan di pedagang asongan. Wah, ngga akan habis kalo saya cerita di sini. Silakan anda bayangkan sendiri berapa ratus “T” tuh jadinya.

Cerita-cerita tadi sekadar membuka wawasan betapa pentingnya rokok dalam kehidupan kita.

Jadi, apakah saya anti rokok? Oh tidak. Sekali lagi saya tidak anti rokok. Rokok itu devisa yang luar biasa. Kalau saya punya toko nanti, saya mau jualan rokok dari semua merek yang ada di dunia. Mau jadi kios rokok terlengkap bahkan supermarket khusus rokok terbesar karena saya yakin pasti laku keras.

ROKOK VS KENTUT
Nah, sebelum saya bahas hubungan rokok dengan gereja, saya mau bahas dulu (maaf) kentut. Siapa tak kenal kata (maaf) kentut? Anak saya sejak umur 2 tahun aja udah tau kalau ada bau-bau yang menyengat dan khas sekali itu selalu dia bilang, “Papi kentut?”
Menurut sebuah sumber,manusia normal, dalam proses metabolisme tubuhnya harus (maaf, lagi) kentut setidaknya 20 kali dalam sehari.
Coba anda mulai menghitung berapa kali anda (maaf, lagi) kentut dalam sehari.
Disadari atau tidak, bahkan saat tidur, (lagi-lagi, maaf) kentut adalah wajar.

Saya ngga akan panjang-panjang dengan (maaf, lagi-lagi) kentut karena kentut tidak menghasilkan devisa, he..he… Mari kita bandingkan rokok dengan (maaf melulu dari tadi) kentut. Banyakan mana, Anda merokok dengan (maaf yang terakhir ya, berikutnya ngga usah pake maaf-maafan lagi ya, nanti aja pas lebaran) kentut.
Kita ambil asumsi di atas tadi seorang perokok merokok 5 batang sehari dan dia kentut 20 kali sehari. Berarti anda kentut 4 kali lebih banyak daripada anda merokok.

Pertanyaan pertama saya pada anda (terutama para perokok) adalah:
Question of the day : APA, DAN BAGAIMANA PERILAKU ANDA SAAT
MEROKOK vs SAAT KENTUT ??
(silakan renungkan sejenak)
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
………………………………………(sudah?)

Saya yakin sekali, saat kentut, anda menyingkir dari keramaian, keluar ruangan, pergi ke WC, ke tempat sepi, atau paaaaaaling sedikit, menyembunyikan ‘harum” (baca: bau) parfum alami anda. Kecuali bila anda
betul-betul sedang sendiri atau di rumah sendiri, atau anda betul-betul yakin
bahwa kentut anda tidak beraroma, baru anda kentut bebas merdeka. Betul?! anda juga mengajarkan anak anda, “jangan kentut sembarangan, gak sopan” Hayo..jujur….
Tapi saat merokok, pernah gak, nanya dulu sekeliling anda, “permisi, keberatankah kalau saya merokok?” Pernah?! Hayo…jujur….!!

Pernah dalam suatu pesta pernikahan. Saya kebetulan berprofesi sebagai fotografer, jadi kalo ada yang membutuhkan jasa saya, silakan kontak, anyway, Saya sedang rehat. Bersandar di dinding di luar ruangan pesta. Lalu ada seorang bapak ikut bersender di sebelah saya. Sempat tersenyum sedikit sekedar permisi tanpa kata. Lalu dia menyulut rokok. Dan angin bertiup ke arah saya jadi dengan telak asap hembusannya ke muka saya. Asem tenan ni
orang. Saya sengaja batuk-batuk, berharap dia sadar. Asem tenan, cuek aja ni
orang, Cuma ngeliat saya sejenak dan balik merokok. Lalu saya pindah ke samping dia dimana sekarang angin bertiup ke arah dia. Saya berdiri agak jauh sedikit (memang agak ramai dan berdesak-desakan), lalu saya mau balas dendam. Saya keluarkan jurus maut silent mode. Buushh… tadinya saya udah nahan supaya gak kentut, tapi ada yang keterlaluan bagi-bagi asap, jadi saya cuek aja. Dan saya dengar ada yang komentar, ‘tuuuut (sensor), saha ieu kentut, teu sopan pisan?!” saya sih, pura-pura bego aja, ikut-ikutan celingak-celinguk. Bahkan saya sempet liat muka orang yang merokok tadi sambil sedikit geleng-geleng kepala, seakan menuduh dia yang kentut lalu berlalu. Sempet liat air mukanya seakan bilang “bukan saya!!” puas, sudah balas dendam, he..he.he…

Nah lo, GAK SOPAN. Kalo kentut sembarangan dibilang ngga sopan, gimana dengan merokok? Padahal bau kentut, 10 detik sudah hilang. Tahan nafas 10
detik, anak saya yang 3 tahun kurang juga udah bisa. Apalagi anda?! Baunya tidak menempel pada baju ataupun rambut. Betul?! Bau kentut kalo dikumpulin malah bisa dipake lagi untuk pengganti elpiji. Gak percaya? Coba Tanya kiri-kanan, pernah denger namanya biogas? yang keluar secara alami dari kotoran sapi. Apa gak sama aja itu buntelan kentut yang dikemas ulang lalu dipake lagi?!
Bau rokok? Sedetik saja kena asap rokok, baunya nempel di baju. Bikin istri saya yang anti banget rokok bisa ganti baju 3 kali sehari hanya karena bajunya ada bau rokok. Baunya nempel di rambut. Bikin boros shampoo karena bikin harus keramas tiap hari. Kalo sehari aja ngga keramas, bantal bisa ikut-ikutan bau rokok. Bahkan rokok merk-merk tertentu, baunya sampai nempel di kulit. Contohnya merk rokok terbesar di dunia “M***b**o” (Ironisnya, he..he.., saya pernah memenangkan event petualangan jalan-jalan keluar negeri yang disponsori oleh rokok tersebut. Saya dan 3 teman saya, yang semuanya BUKAN PEROKOK). Rokok merk ini cocok untuk menghilangkan bau parfum WIL atau PIL.
Tapi jurus rahasia ini jangan dipraktekin yah.
Ini baru tentang baunya.

Bicara efek negative yang ditimbulkan.
Kentut? Paling cuma bikin sebel, setelah 10 detik baunya hilang, paling juga bikin perasaan dongkol, sialan, gak tau diri. Ngga ada kandungan berbahaya dari kentut selain aroma terapinya yang kadang sangat aduhai, apalagi kalau perut lagi kurang beres.
Rokok? He..he...he… anda semua pasti udah tau efek negative dari rokok. Ya racunnya, nikotin, tar, dan 14 ribu macam bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya, degradasi otak, penyakit paru-paru dan jantung (anda pernah bayangin gak sih, asap kok dimasukin ke paru-paru? Coba tuh asap bis diisep dalem-dalem, mau?), osteoporosis, kelainan janin, ah, banyak deh, ngga perlu berpanjang-panjang soal efek negative dari rokok, anda semua pasti udah tau dan lebih pinter dari saya. It’s all poison in there for Christ’s sake..!!!
Dan anda tahu, perokok pasif, mendapatkan bahaya lebih besar dari pada perokok aktif. Perokok pasif bukan hanya mendapat asap dari batang rokok yang masih menyala, tapi malah “ampas” asap yang sudah dihisap, “ampas”
asap yang dihembuskan kembali.

Jadi sudah tahu kan efek negative kentut dan rokok?! Mana yang berbahaya? Mana yang mematikan? Mana yang harus lebih dihindari?

Pertanyaan kedua :
Mana yang sebenarnya ngga sopan itu? Kentut? Atau merokok?
(monggo, direnungkan sejenak)
………………………………………………………………………………….

Kalo efek negative dari rokok hanya “dinikmati” oleh perokok saja. That is totally fine. What I really hate is YOU SHARE YOUR POISON WITH OTHERS.

ROKOK VS GEREJA
Nah, ini balik lagi ke judul tulisan.
Saya yakin, bahwa umat gereja kita ini sebagian besar adalah golongan yang terpelajar. Paling ngga pernah sekolah, pernah kuliah, bahkan mungkin lulusan luar negeri. Dan melihat pakaian anda, sepatu anda, jam anda,
henfon anda, motor anda, mobil anda saya yakin anda pun orang berkecukupan bahkan mungkin orang kaya. Dan lebih-lebih saya yakin anda tahu bahaya asap rokok bagi kesehatan anda. OK, fine, I don’t care with your health.
Maaf maaf aja nih, yang menurut saya keterlaluan adalah anda merokok tanpa peduli orang lain. Bahkan baru keluar pintu gereja, yang pertama diambil adalah rokok. Langsung dinyalakan bahkan saat masih berdesak-desakan di pintu keluar. Seolah-olah anda kekurangan oksigen dan hampir mati lemas.
Ini pernah saya alami di gereja Katedral. Di pintu utama, baru anak tangga pertama, seorang pemuda sudah menyulut rokoknya. Bahkan di area plaza samping yang notabene “area bebas rokok” (ada lho papan larangan merokok) sering sekali jadi area merokok.
Di gereja Karmel, masih di area peribadatan, saat umat masih bantu beres-beres bangku plastik, sudah ada yang mengepulkan asapnya sambil
ikut bantu-bantu. Saya yang lagi bantu-bantu malah buru-buru kabur bantu-bantu karena gak mau ikut bantu-bantu malah bau-bau rokok.
Di gereja Pratista, saat umat masih beriringan berjalan ke area parkir di selasar, ada juga yang berjalan sambil merokok. Asapnya itu lho, dibagi-bagi buat semua yang jalan dibelakangnya?! Coba gimana kalo saya yang kentut? Pasti mencak-mencak barisan di belakang saya.
Di gereja Pandu, saat umat lagi berbondong-bondong keluar pintu utama, ada yang lagi santai merokok di samping pintu utama sambil nelpon.

Dan yang sangat menyedihkan yang pernah saya lihat, seorang bapak, menggandeng anaknya yang kurang lebih umur 5 tahun, dan ditangan yang
sama lagi pegang rokok dan asapnya jelas-jelas melewati anak (yang malang) itu, dan si bapaknya cuek-cuek aja.
Yang lebih menyedihkan lagi, lagi-lagi seorang bapak, menggendong anaknya yang paling baru umur 3 tahun, sambil merokok. Aduh pak, kasian deh anak lu, jantung dan paru-parunya masih bersih, jangan diasapin donk…..
Dua kejadian tadi saya lihat sendiri di gereja Katedral dan satu lagi di gereja Karmel. Sayangnya ngga bawa kamera. Kalo bawa, pasti sudah saya pasang disini.

Kalau saya lihat ada bapak dan ibu naek mobil, bapak nyupir, ibu di sebelahnya, pangku anak, sambil ngerokok, kasian bener tuh anak, keterlaluan bener tuh ortu, tapi liatnya di jalan, ya udah lah, mobilnya juga
rada bobrok, paling orang bodo. Sebodo lah.
Kalau saya liat ada bapak lagi jagain anaknya yg baru belajar jalan sambil pegang rokok dan asapnya kemana-mana dan pastinya kena anaknya sendiri, tapi si bapaknya juga cuman tukang kios rokok, yah, namanya juga orang bodo, sebodo lah Kalau saya liat ada segerombolan ibu-ibu lagi makan sama
anak-anaknya sepulang sekolah sambil ngerumpi sambil rame-rame ‘ngudut’, kasian ya anak-anaknya makan siang aroma asap rokok, tapi liatnya di mall, ngga kenal ini, paling juga juga ibu-ibu muda yang masih darah muda, pengen ikut arus pergaulan atau malah cuman sok gaya dengan ngerokok, yah bodo-bodonya mereka sendiri, sebodo lah.
Kalau saya waktu itu masuk gedung sate, cari ruang perijinan untuk foto sesion di halaman gedung sate, itu ruang sama aja dengan “gas chamber” karena penuh asap rokok. Semua orang merokok kecuali ada 1 ibu yang
meja kerjanya disitu. Kasian bener tuh ibu. Dan saya dengan terang-terang nutup hidung terus dengan jaket selama berurusan di sana, sebodo lah, karena saya ngga kerja di sana.
Kalau ada temen mama saya yang meninggal karena kanker paru-paru padahal dia ngga merokok, gara-gara ruang kerja suaminya yang sama
dengan ruang tidurnya yang berAC dan suaminya selalu merokok sambil kerja, malang benar nasibmu bu, sebodo lah, asal jangan mama saya bernasib sama karena papa saya juga perokok berat.
Kalau di sekolah tempat saya mengajar, ada seorang guru yang tidak pernah saya lihat tidak merokok, merokok terus tanpa henti selama di kantor guru, selama berjalan, ketemu di WC, di area bertuliskan “area bebas rokok” dan jelas-jelas bisa terlihat oleh murid dan muridnya mulai coba-coba ngudut, mau bilang apa? Merokoknya di luar area sekolah donk, pak
Kalau di kampus tempat saya menjadi asisten dosen, justru di ruang dosen yang bertuliskan “area bebas asap rokok” menjadi “gas chamber”, dan anda tahu komentar dosen yang saya tegur? “ini kan area bebas rokok, jadi area bebas untuk asap rokok, ha…ha..ha…”. makes you look like just a bunch of intellectual idiots..

Tapi kalau di gereja? Please deh…. Ajaran gereja adalah cinta kasih. Dan cinta kasih sesama, bahkan cintailah musuhmu. Setuju? Gak, usah jauh-jauhlah sampe mencintai musuh, susah itu, Kalau anda merokok di lingkungan gereja (sebetulnya gak di lingkungan gereja aja, tapi dimanapun anda berada) dan asapnya “dibagi-bagi” sama orang lain, berarti anda tidak mencintai sesama anda, tapi anda meracuni sesama anda. Dan lebih-lebih anda meracuni orang-orang terdekat, orang-orang yang anda cintai, istri, suami, anak-anak
anda?! Setuju!?
Baru dikhotbahi pastor tentang cinta kasih, keluar gereja udah bikin dosa lagi karena meracuni orang lain. Nah lo?! Pastor, frater, Monsignor, mungkin bisa bantu jawab pertanyaan saya, dosakah bila merokok? Mungkin perlu juga Gereja mengeluarkan fatwa yang mengharamkan rokok?! He..he…he…
Saya tak sudi diracuni orang lain. Kalau saya mau meracuni diri sendiri, gak perlu repot-repot anda meracuni saya karena saya akan langsung cari racunnya dan langusng minum racunnya sampe kenyang.

So, what I’m saying is:
Kalo efek negative dari rokok hanya “dinikmati” oleh perokok saja. That is totally fine. I don’t give a damned care about you. What I really hate is YOU SHARE YOUR POISON WITH OTHERS SPECIALLY WITH YOUR LOVE ONES.

Jadi, apakah sekarang saya terdengar anti rokok? Tidak, saya tidak anti rokok, merokoklah sebanyak yang anda mau dan jangan berhenti merokok, satu aja kok, satuuuu aja permintaan saya (dan saya yakin permintaan jutaan orang lain yang tidak merokok) tolong ya pak, bu, mas, mbak, ko, cie, aa, teteh, kang, om, tante, ASAPNYA JANGAN DIBAGI-BAGI DONK, kalo bisa, asapnya telan semua, jangan dikeluarin lagi. Mau tau caranya? Setelah isap rokok, tahan napas 10 detik. Baru dihembuskan. Dijamin asap yang keluar tinggal sedikit sekali. Dan efek rokoknya maksimal, anda akan merasakan sensasi baru dalam merokok. Ada fly-fly nya sedikit dan rasanya nikmat. Kalo mau tahan 5 detik lagi, hembusan nafas anda akan bersih. Dan “manfaat” rokoknya 100% di dalam tubuh anda. Jadi anda tidak meracuni orang lain lagi.

Ingatlah kentut setiap kali anda merokok Kalau anda perokok, semoga tersadar Kalau anda perokok tidak tersadar, semoga sekeliling anda
yang tersadar. Kalau anda perokok tidak tersadar dan sekeliling anda tidak
tersadar, semoga anda tidak disekitar saya.

Behave when you fart,
behave when you smoke !!

Sekian dan terima kasih

Alphi Indiarto
Komentar, dukungan, protes, sanggahan, caci maki, email: mynextprojects@gmail.com

PS: “Saya kentut lebih sering daripada anda merokok. Dan anda tidak cium bau kentut saya kan?”
(so, please deh ah, jangan ngudut di sekitar orang yang tidak merokok)

No comments: