Tulisan ini saya buat tahun 2000 lalu. Entah masih pada ingat film Braveheart gak? Ini cuman sentilan kecil terhadap keagungan Kristus.
Saudara kenal dengan William Wallace? Seorang pahlawan Skotlandia yang terkenal gagah berani memimpin bangsanya dalam melawan penjajahan bangsa Inggris atas mereka. Ketegarannya pun sudah difilmkan dengan pemeran utama Mel Gibson dalam film Braveheart. Film yang begitu menyentuh hati kita melihat betapa tegarnya William dalam menghadapi bangsa Inggris, kebodohan bangsanya sendiri dan terlebih lagi menghadapi penghukumannya setelah dia tertangkap karena dikhianati bangsanya sendiri.
Satu yang menarik di sini adalah bagaimana tatkala ia menghadapi penderitaan saat dihukum, sehingga seperti apa yang dikatakan dalam film itu adalah bahwa seseorang akan berharap segera mati ketika menghadapi hukuman penyiksaan itu. Anda juga pasti bisa membayangkan jika kita digantung, lantas setelah menderita dan hampir habis nafas kita, lalu kita dilepaskan, lalu bayangkan juga rasanya jika tubuh kita ditarik ke tiga arah yang berbeda atau bayangkan jika isi perut kita dikeluarkan namun kita tidak mati? Sungguh sulit untuk menghadapi penyiksaan sedemikian hebat.
Begitu kejinya hukuman itu hingga masyarakat yang menyaksikan penghukuman itu pun berharap William mengucapkan kata Mercy (Kebijaksanaan) untuk memohon kebijaksanaan pemerintah agar dia segera saja dibunuh. Namun kita pun sudah mengetahuinya bahwa dia tidak mengucapkan kata itu sampai kepalanya lepas dari tubuhnya. Ketegaran dan kesetiaannya inilah yang kelak membuat masyarakat Skotlandia selalu terkenal dengan semangat juangnya yang tidak kenal menyerah. Dampaknya juga bisa kita perhatikan belakangan ini dimana tim sepakbola Skotlandia contohnya, selalu memiliki semangat juang yang hebat dalam pertandingan-pertandingannya. Mereka selalu bisa menutupi kekurangan skill mereka dengan semangat juang yang tinggi.
Lantas bagaimana William Wallace dibandingkan dengan Kristus? Kristus memang tidak pernah memimpin gerakan bersenjata dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Romawi, Kristus juga bukan sosok yang digambarkan oleh William, seorang laki-laki gagah perkasa dengan sebuah pedang besar di punggungnya. Namun, Kita harus tahu bahwa perjuangan Kristus jauh lebih besar dari apa yang sekadar William lakukan. Kristus dengan kesederhanaannya -karena rela meninggalkan keilahiannya dengan menjadi manusia- justru berjuang bukan hanya untuk orang Yahudi yang diperbudak oleh bangsa Romawi, melainkan Kristus berjuang untuk umat manusia yang diperbudak dosa. Berbagai pengajarannya secara jelas menentang dosa.
Yang lebih dahsyat lagi adalah saat Kristus harus menjalani Penyaliban. Penyaliban merupakan hukuman yang dahsyat pada jaman itu. Bahkan jika kita teliti lagi, seharusnya penyaliban itu jauh lebih menderita daripada apa yang William alami. Sebabnya? Penyaliban membuat seseorang menderita dan sangat sulit untuk mati, sedangkan William sendiri akhirnya pun memang dieksekusi karena semua penghukuman sudah dikenakan padanya namun ia tetap bertahan.
Memang, Yesus pun mati di atas kayu salib terhitung cukup cepat, yakni sekitar 3 jam, sementara seharusnya penyaliban itu berlangsung lebih dari 3 jam itu bahkan bisa dua kali lebih lama, karena orang yang disalib tentunya menderita sakit yang amat sangat tetapi kematiannya tidak datang dengan cepat.
Yang bisa kita tarik kesimpulannya dari perbandingan kedua tokoh ini adalah, masing-masing memiliki jamannya sendiri, dan mungkin saja level penderitaan yang dialami sama, tapi dampak yang dihasilkan sangat jauh berbeda, jika kematian William Wallace membakar semangat bangsa Skotlandia untuk berjuang demi kemerdekaan mereka, maka Kristus mati dan membebaskan semua orang percaya dari perbudakan dosa, terlebih lagi, kematian Kristus membuktikan bahwa Dialah Raja sesungguhnya, Raja di atas segala raja dan Allah yang menang atas maut, karena Ia bangkit pada hari yang ketiga.
Saudara kenal dengan William Wallace? Seorang pahlawan Skotlandia yang terkenal gagah berani memimpin bangsanya dalam melawan penjajahan bangsa Inggris atas mereka. Ketegarannya pun sudah difilmkan dengan pemeran utama Mel Gibson dalam film Braveheart. Film yang begitu menyentuh hati kita melihat betapa tegarnya William dalam menghadapi bangsa Inggris, kebodohan bangsanya sendiri dan terlebih lagi menghadapi penghukumannya setelah dia tertangkap karena dikhianati bangsanya sendiri.
Satu yang menarik di sini adalah bagaimana tatkala ia menghadapi penderitaan saat dihukum, sehingga seperti apa yang dikatakan dalam film itu adalah bahwa seseorang akan berharap segera mati ketika menghadapi hukuman penyiksaan itu. Anda juga pasti bisa membayangkan jika kita digantung, lantas setelah menderita dan hampir habis nafas kita, lalu kita dilepaskan, lalu bayangkan juga rasanya jika tubuh kita ditarik ke tiga arah yang berbeda atau bayangkan jika isi perut kita dikeluarkan namun kita tidak mati? Sungguh sulit untuk menghadapi penyiksaan sedemikian hebat.
Begitu kejinya hukuman itu hingga masyarakat yang menyaksikan penghukuman itu pun berharap William mengucapkan kata Mercy (Kebijaksanaan) untuk memohon kebijaksanaan pemerintah agar dia segera saja dibunuh. Namun kita pun sudah mengetahuinya bahwa dia tidak mengucapkan kata itu sampai kepalanya lepas dari tubuhnya. Ketegaran dan kesetiaannya inilah yang kelak membuat masyarakat Skotlandia selalu terkenal dengan semangat juangnya yang tidak kenal menyerah. Dampaknya juga bisa kita perhatikan belakangan ini dimana tim sepakbola Skotlandia contohnya, selalu memiliki semangat juang yang hebat dalam pertandingan-pertandingannya. Mereka selalu bisa menutupi kekurangan skill mereka dengan semangat juang yang tinggi.
Lantas bagaimana William Wallace dibandingkan dengan Kristus? Kristus memang tidak pernah memimpin gerakan bersenjata dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Romawi, Kristus juga bukan sosok yang digambarkan oleh William, seorang laki-laki gagah perkasa dengan sebuah pedang besar di punggungnya. Namun, Kita harus tahu bahwa perjuangan Kristus jauh lebih besar dari apa yang sekadar William lakukan. Kristus dengan kesederhanaannya -karena rela meninggalkan keilahiannya dengan menjadi manusia- justru berjuang bukan hanya untuk orang Yahudi yang diperbudak oleh bangsa Romawi, melainkan Kristus berjuang untuk umat manusia yang diperbudak dosa. Berbagai pengajarannya secara jelas menentang dosa.
Yang lebih dahsyat lagi adalah saat Kristus harus menjalani Penyaliban. Penyaliban merupakan hukuman yang dahsyat pada jaman itu. Bahkan jika kita teliti lagi, seharusnya penyaliban itu jauh lebih menderita daripada apa yang William alami. Sebabnya? Penyaliban membuat seseorang menderita dan sangat sulit untuk mati, sedangkan William sendiri akhirnya pun memang dieksekusi karena semua penghukuman sudah dikenakan padanya namun ia tetap bertahan.
Memang, Yesus pun mati di atas kayu salib terhitung cukup cepat, yakni sekitar 3 jam, sementara seharusnya penyaliban itu berlangsung lebih dari 3 jam itu bahkan bisa dua kali lebih lama, karena orang yang disalib tentunya menderita sakit yang amat sangat tetapi kematiannya tidak datang dengan cepat.
Yang bisa kita tarik kesimpulannya dari perbandingan kedua tokoh ini adalah, masing-masing memiliki jamannya sendiri, dan mungkin saja level penderitaan yang dialami sama, tapi dampak yang dihasilkan sangat jauh berbeda, jika kematian William Wallace membakar semangat bangsa Skotlandia untuk berjuang demi kemerdekaan mereka, maka Kristus mati dan membebaskan semua orang percaya dari perbudakan dosa, terlebih lagi, kematian Kristus membuktikan bahwa Dialah Raja sesungguhnya, Raja di atas segala raja dan Allah yang menang atas maut, karena Ia bangkit pada hari yang ketiga.