Thursday, June 03, 2010

The OXIS Super Anti-Oxidant

OXIS International, Inc. is engaged in the research, development and sale of products that counteract the harmful effects of “oxidative stress.” Oxidative stress refers to the situations in which the body’s antioxidant and other defensive abilities to combat free radicals (a.k.a highly reactive species of oxygen and nitrogen) are overwhelmed and one’s normal healthy balance is either lost or severely compromised.

As their focus of dedication to fill the world with reliable and effective antioxidant solutions, Oxis offers you with varies health solutions ranging on the anti aging or skin health, brain health, immunity against the diseases, detoxification, inflammation, and blood sugar regulations. They always launch certain new products regularly to provide people some new solutions to any health problems they have, especially those related to oxidative stress. Also contains in this antioxidant is the glutathione. So that the free radicals & penny stocks would go away or being stressed by this product.

For more detailed information of Axis Company, their network, service, and also review of their products, there you may consider to http://www.oxis.com which contains of official information of everything related to http://www.oxis.com. Need to get in touch with the company and to be alerted for any new news and information about their products, now you can also try Oxis on Twitter or there also quite possible for you to Oxis on facebook and get connected with the company personally.

Tuesday, December 08, 2009

So... this is the excited feeling for meet the President

Duh, gue gak tau ya mesti ngomong apa. Pokoknya hari ini rasanya excited banget. Kadang kalo dipikir knapa mesti punya perasaan gini? Akh, gak apa-apa. Perasaan pribadi kan hak-hak gue juga tokh?

Anyway, it's all about the President(Susilo Bambang Yudhoyono)'s trip to Kota Baru Parahyangan (KBP) today.
Sejak Jumat lalu, gue udah daftar jadi salah satu penghuni KBP yang mau ikut berpartisipasi di acara One Man One Tree, yang mana Pak Presiden bakalan datang dan menanam pohon disini. Gue daftar dan melihat ternyata gak banyak juga yang daftar, mungkin karena datangnya Pak Presiden tuh di jam kerja, jadi pada kerja kali yee.. Gue daftar bertiga istri dan mamaku, karena anak2 gak perlu daftar katanya.

Akhirnya tibalah hari ini.

Web Hosting

Project2 gue di lapangan agak terhambat karena mobil2 barang udah dilarang masuk hari ini ke lingkungan KBP. Konon tukang2 bangunan juga diminta buat libur hari ini. Tapi emang sih tim gue gak libur, karena posisi project gue jauh banget dari lokasi One Man One Tree.
So, gue cuman pikir2 aja kalo hari ini toko juga gak bakalan rame gimana, jadinya gue cuman ngerjain beberapa target aja.

Langsung deh ke waktunya. Akhirnya mama batal ikutan. Gue & Imelda masih berpikir keras dan bergumul berat, apakah anak2 tercinta mau dibawa aja, soalnya kebayang deh acara seremonialnya pasti banyak juga krn sebelumnya kita dapet bocoran kalau acara bakalan sampai jam 16. Well, jam 13 - 16 tuh jamnya tidur siang my kiddies. Tapi akhirnya tetep kita bawa aja.

Sampai di lokasi, kita ketemu Pak Raymond Hadipranoto (Marketing Manager KBP) n Joseph I Dachlan (Asistennya Pak Raymond) juga beberapa rekan lain, seperti Agus Indra n lainnya. Hmm mereka terlihat agak kaget kita bawa anak2 kita. Malah sempet nanya juga apa kita bawa perbekalan gak, takut anak kita rewel kalee.

Kita lanjut ke gate masuk... diperiksa sama Paspampres, tas discanning, badan discanning. Kedua anakku sempet2nya nyapa tu pasukan, "Selamat siang, Pak, selamat siang, Bu." Cliff and Gail langsung deh diajakin ngomong sama ibu2 tegap di gate itu. Sempet juga ketemu Pak Arifin (KBP) yang seolah kuatir kalau anak2 gak bisa tahan dan sabar karena acaranya bakalan lama. Tapi kita nekat maju terus karena emang Cliff sama Gail udah excited dari pagi pengen ikutan ketemu SBY. Gail malah nyanyi2 lagi iklan SBY pas Pilpres dulu, "SBY... Presidenku... LANJUTKAN!"

Pas masuk area seremoni... kita dah yakin kalo kita gak bakalan tempatnya disono, so kita mengarah ke arah yang ditunjukin Pak Arifin... duile tu tempat jauuuh banget... sekitar 500-600 meter kali dari lokasi Tenda2 Seremoni, tapi ya udah, tokh udah emangnya mau ikutan. Sampai di lokasi penanaman-nya Menteri2, kita malah dihalau (kayak sapi aja dihalau, heheheh) ke arah lainnya, sehingga kita jadi bengong aja, gak jelas harus kemana.
Sempet keder juga karena udah diliatin terus sama polisi2 dan pengaman2 disana. Mana anak2 kita cuek banget malah lari2an.
Bertanyalah daku sama pengawal2 di sekitar sana akses menuju ke lokasi penghuni KBP. Dan ternyata diijinkan juga. Berjalanlah kita berempat ke lokasi penghuni KBP.

Sampai disana suasana menjadi beda. Kesannya pada mengeluh, karena merasa di-umpetin, ditipu, dibo'ongin, dan pada merasa agak kecewa, kenapa koq kita diisolasi sedemikian jauh. Panitia dari KBP pun gak bisa berbuat banyak karena mereka cuma ditugaskan sedemikian, betul kan Bu Winarni? Bu Dwi? Kang Adit?

Gue cuma berusaha menenangkan Istriku, anak2ku yang mulai bete karena ternyata pohon2nya udah ditanamin, krn pagi sempat hujan dan galiannya takut pada ketutup.
Gue pikir ya udah lah kalo emang bukan rejekinya ketemu Presiden, ya pakailah waktunya buat bersosialisasi dengan penghuni2 KBP lainnya, lumayan dapet banyak teman baru.

Gak lama kemudian, tanpa dikomando, kumpulan penghuni plus perwakilan BAIS (Bandung Alliance Internatinal School) dan CBCS (Cahaya Bangsa Classical School) bergerak merapat ke lokasi penanaman pak Presiden dan para Menteri. Gue pikir ikutan aja lah. Jelek-jeleknya diusir. Hehehehe..
Bener aja, dalam satu situasi kita diusir supaya gak terlalu dekat sama lokasi tersebut. Akhirnya serasa terjebak deh. Anak2ku udah ngantuk dan mulai ngadat. Gail udah minta digendong aja (wuih, berat kamu, Gail). Gue dan istri gantian gendong Gail. Untung gak lama mereka berdua terlibat perbincangan sama beberapa mahasiswi UNISBA.

Dan yang dikhawatirkan pun terjadilah. Tiba2 hujan turun. Mulanya cuma gerimis. Tapi akhirnya jadi agak lebat juga. Kita panik cari2 pelindung. Thanks to Ibu Dwi yang ngasi satu Trash Bag. Lumayan bisa buat nudungin.
Gue lari2 nyari Daun Pisang buat jadi Payung.



Untungnya tak lama hujan berhenti. Dan lihat... SBY mendekati lokasi penanaman dan mulai menanam. Gue buru2 keluarin Blackberry gue buat motret. Biarlah motret punggungnya juga.

Eh, gak disangka, setelah beliau menanam pohon, beliau menoleh ke belakang. Dan melihat banyak warga di kejauhan, dia melambai. Tentu kita2 juga jadi lebih semangat melambaikan tangan. Hahahaha...

Dan eehh... dia berjalan mendekat, disertai pengawal2nya tentu. Dan akhirnya dia memang begitu dekat. Dia bicara beberapa hal. Dan kemudian dia kembali ke tempat seremoni.



Hujan turuuun lagi. Kali ini beneran gede. Gue sekeluarga cepat2 menuju arah gerbang pulang. Eh... ternyata mobilnya Pak Presiden ada disana. Jadi deh... nyempet2in foto di depan mobil RI 1. Nih fotonya saya pajang... lihat kedua anakku dah tampang teler. Hahahaha..
Cliff udah merengek-rengek minta ketemu SBY, padahal tadi pas ketemu di lapangan, dia udah liat dari dekat (karena gue angkat di pundak gue). Tapi saat itu dia agak bete karena kakinya lecet.
Gue cuman menenangkan dia lagi dan bilang kalo kita tunggu aja SBY masuk mobil, ntar kalo muncul gue suruh mereka waving ke SBY.

Link2Communion.com

Dan saat-saat itu pun akhirnya datang, Pak Presiden setelah melihat-lihat pameran alam Jawa Barat, menuju ke mobilnya. Dia menyalami beberapa penghuni yang deket dengan pintu mobilnya. Dan disanalah Cliff dan Gail mulai berteriak, "Pak SBY... Pak SBY!"
Beberapa orang di sekitar gue agak kaget kalo Cliff berani berteriak begitu, mereka lalu menyarankan Cliff teriak lebih keras. Gue bilang, "Cliff, panggilnya Pak SBY, Dadaaah". Akhirnya Cliff teriak seperti itu. And... Mr. President menoleh ke Cliff!

Dia tersenyum di depan pintu mobilnya. Kamera2 gak berheni menjepret. SBY melambai dan kemudian menunjuk Cliff! Wah... gue kaget juga, liat kiri kanan gak ada lagi yang ditunjuk SBY, dan tangan gue ditepuk2 orang. Gak lama Pengawal Presiden panggil gue dan bilang, "Pak... anaknya kesini." Gue angkat Cliff dan memberikannya ke Pengawal Presiden.

Cliff senyam-senyum dan mendekat. Katanya sih dia ditanyain namanya sama Pak SBY. Selain Cliff ada satu anak perempuan yang dibawa ibunya mendekat. Gail di belakang bersama istri gue berusaha ikutan tapi gak bisa. Akhirnya Cliff dikembalikan ke pelukan gue dan tetap tersenyum. Gue bilang sama Gail untuk tetap waving ke Pak SBY. Dan SBY pun sempat membalas lambaian Gail dari dalam mobilnya.

Hmm... after that... tiba2 gue koq banyak yang nyalamin ya... Hahahahaha...
Banyak yang ikut seneng kalo anak gue diajak ngomong sama Presiden.

Well, Friends...
Gue akhirnya punya pengalaman excited seperti ini.

Tadinya pikir2 mungkin biasa2 aja lah ngeliat presiden dari deket. Ternyata... Luar biasa juga.

Tuesday, November 24, 2009

Rokok vs Kentut

Rokok, siapa tak kenal kata ini. Bahkan bagi Anda yang tidak merokok sekalipun, saya yakin anda ngga pernah terlepas dari rokok. Dimanapun, ya, dimanapun kita berada, PASTI ada yang merokok. Yang merdeka mengepulkan asapnya ke udara bebas. Lebih-lebih mereka yang dengan bebasnya merokok tanpa peduli bahwa asapnya mengganggu orang lain.

Di jalan, di angkot, di mall, di kantor, di warung, di restoran, di tempat-tempat umum lainnya, bahkan di rumah tinggal.
Survey pernah membuktikan bahwa 90% pria di Indonesia merokok atau pernah merokok. Wanita? Katakanlah 30-40% karena jaman sekarang ini semakin sering kita melihat wanita yang (ikut-ikutan) merokok.

Termasuk pula di lingkungan gereja. Saya adalah orang yang senang berpindah-pindah gereja sekedar untuk mencari pergantian suasana tiap minggu atau tiap 2 minggunya. Dan di semua, ya, semua gereja yang pernah saya datangi selalu ada juga orang Katolik yang merokok.
Masalah?
Tidak. Saya katakan sekali lagi TIDAK! Tidak masalah sama sekali.

Saya justru senang kalau banyak yang merokok. Merokoklah sebanyak-banyaknya, sebanyak yang anda mau, sebanyak yang Anda suka. Sebanyak yang anda mau tapi tidak semua anda. Kenapa? Silakan baca lebih lanjut.

Mengapa saya senang bila banyak yang merokok? Walaupun saya bukan perokok, yaa..pernah sih, nyoba-nyoba, sekedar pengen tahu, sekedar sok gaya, but anyway, Jelas donk saya senang bila banyak yang merokok… Rokok itu menguasai hajat hidup orang banyak. Banyak sekali. Pernahkah anda bayangkan berapa jumlah orang yang hidup dari rokok? Mulai dari petani tembakau, petani cengkeh, pengepul / bandarnya, boss pabrik rokok, para petinggi pabrik rokok, para karyawan pabrik rokok, buruh-buruhnya, buruh angkut, distributor, pegawai distributor, agen, pegawai agen, toko, pelayan toko, hingga pedagang asongan, buuuaaaanyak sekali orang yang hidup dari rokok dan segala bisnis yang terkait dengannya besar maupun kecil.

Belum lagi teman saya yang punya pabrik spare part mesin pabrik rokok. Anda tahu betapa banyaknya spare part pabrik rokok yang dibutuhkan tiap bulannya? Pokoknya, kawin 600 juta, ngga masalah. Atau teman saya yang langganan bikin iklan rokok. Anda pasti tahu jargon “Bukan Basa-Basi”? Hanya gara-gara 3 kata-kata ‘ajaib’ itu, dia mendadak kaya raya. Atau oom saya yang spesialis bedah jantung, kateter, dan by pass. Anda tahu berapa pasiennya tiap bulan yang operasi? Dan hampir semuanya perokok? Atau oom dari oom saya yang lain, yang spesialis bedah. Tidak terhitung lagi operasi tumor/kanker paru-paru, yang lagi-lagi hampir semuanya perokok. Belum lagi teman saya yang hipnoterapist, lebih dari 50% pasiennya ingin di terapi berhenti merokok.
Bahkan yang mau berhenti merokok pun masih menghasilkan uang.

Rokok bahkan mampu menguasai satu kota hampir secara mutlak. Dalam sebuah seminar, pernah saya diceritakan, pabrik rokok Gudang Garam, di Kediri, (cmiiw) di demo oleh buruh dan karyawannya. Lalu tanggapan boss besarnya, “kalo memang tidak mau kerja lagi, ya sudah, pabrik saya tutup sekarang juga” sontak seluruh pendemo kebingungan. Dan pabrik benar-benar ditutup satu minggu. Apa yang terjadi? Seluruh kota Kediri mati suri. Karena sebagian besar penduduk, menjadi karyawan di pabrik tersebut. Karena tidak ada pekerjaan, otomatis tidak ada penghasilan, tidak bisa belanja, semua toko di kota itu kehilangan pelanggannya. Warung-warung makan di sekitar pabrik mendadak sepi. Anda bisa bayangkan pabrik rokok tadi sudah menjadi jantung kehidupan kota itu. Begitu jantungnya berhenti, seluruh kehidupannya ikut mati. Sampai-sampai bupati / walikota Kediri datang sendiri menghadap boss besar dan meminta pabrik untuk dibuka kembali.

Sekarang coba kita hitung-hitungan, penduduk Indonesia 240jt. Anggap pria : wanita 50:50. 90% pria merokok, 30% wanita merokok. Berarti ada 108 juta pria dan 36 juta wanita perokok. Total 144jt perokok. Bila seorang perokok merokok 5 batang saja dalam 1 hari, 720 JUTA batang rokok dihisap dalam
1 hari. Bila sebatang rokok 500 perak, 360.000.000.000. bacanya 360 milyar rupiah DIBAKAR tiap hari, kali 365 hari (1 tahun) sama dengan
131.400.000.000.000, its seratus tiga puluh satu TRILYUN empat ratus MILYAR.
Setara 15% APBN kita ya?! Kalo duitnya seratus ribuan semua, ditumpuk,
tingginya setara dengan jarak Bandung-Jakarta lewat cipularang. Fantastico !! Padahal rata-rata teman, kenalan, saudara saya yang merokok, rata-rata bisa 1 bungkus (16 batang) dalam sehari. Dan saya tahu harga sebatang rokok sudah diatas 500 perak. Apalagi harga ketengan di pedagang asongan. Wah, ngga akan habis kalo saya cerita di sini. Silakan anda bayangkan sendiri berapa ratus “T” tuh jadinya.

Cerita-cerita tadi sekadar membuka wawasan betapa pentingnya rokok dalam kehidupan kita.

Jadi, apakah saya anti rokok? Oh tidak. Sekali lagi saya tidak anti rokok. Rokok itu devisa yang luar biasa. Kalau saya punya toko nanti, saya mau jualan rokok dari semua merek yang ada di dunia. Mau jadi kios rokok terlengkap bahkan supermarket khusus rokok terbesar karena saya yakin pasti laku keras.

ROKOK VS KENTUT
Nah, sebelum saya bahas hubungan rokok dengan gereja, saya mau bahas dulu (maaf) kentut. Siapa tak kenal kata (maaf) kentut? Anak saya sejak umur 2 tahun aja udah tau kalau ada bau-bau yang menyengat dan khas sekali itu selalu dia bilang, “Papi kentut?”
Menurut sebuah sumber,manusia normal, dalam proses metabolisme tubuhnya harus (maaf, lagi) kentut setidaknya 20 kali dalam sehari.
Coba anda mulai menghitung berapa kali anda (maaf, lagi) kentut dalam sehari.
Disadari atau tidak, bahkan saat tidur, (lagi-lagi, maaf) kentut adalah wajar.

Saya ngga akan panjang-panjang dengan (maaf, lagi-lagi) kentut karena kentut tidak menghasilkan devisa, he..he… Mari kita bandingkan rokok dengan (maaf melulu dari tadi) kentut. Banyakan mana, Anda merokok dengan (maaf yang terakhir ya, berikutnya ngga usah pake maaf-maafan lagi ya, nanti aja pas lebaran) kentut.
Kita ambil asumsi di atas tadi seorang perokok merokok 5 batang sehari dan dia kentut 20 kali sehari. Berarti anda kentut 4 kali lebih banyak daripada anda merokok.

Pertanyaan pertama saya pada anda (terutama para perokok) adalah:
Question of the day : APA, DAN BAGAIMANA PERILAKU ANDA SAAT
MEROKOK vs SAAT KENTUT ??
(silakan renungkan sejenak)
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
………………………………………(sudah?)

Saya yakin sekali, saat kentut, anda menyingkir dari keramaian, keluar ruangan, pergi ke WC, ke tempat sepi, atau paaaaaaling sedikit, menyembunyikan ‘harum” (baca: bau) parfum alami anda. Kecuali bila anda
betul-betul sedang sendiri atau di rumah sendiri, atau anda betul-betul yakin
bahwa kentut anda tidak beraroma, baru anda kentut bebas merdeka. Betul?! anda juga mengajarkan anak anda, “jangan kentut sembarangan, gak sopan” Hayo..jujur….
Tapi saat merokok, pernah gak, nanya dulu sekeliling anda, “permisi, keberatankah kalau saya merokok?” Pernah?! Hayo…jujur….!!

Pernah dalam suatu pesta pernikahan. Saya kebetulan berprofesi sebagai fotografer, jadi kalo ada yang membutuhkan jasa saya, silakan kontak, anyway, Saya sedang rehat. Bersandar di dinding di luar ruangan pesta. Lalu ada seorang bapak ikut bersender di sebelah saya. Sempat tersenyum sedikit sekedar permisi tanpa kata. Lalu dia menyulut rokok. Dan angin bertiup ke arah saya jadi dengan telak asap hembusannya ke muka saya. Asem tenan ni
orang. Saya sengaja batuk-batuk, berharap dia sadar. Asem tenan, cuek aja ni
orang, Cuma ngeliat saya sejenak dan balik merokok. Lalu saya pindah ke samping dia dimana sekarang angin bertiup ke arah dia. Saya berdiri agak jauh sedikit (memang agak ramai dan berdesak-desakan), lalu saya mau balas dendam. Saya keluarkan jurus maut silent mode. Buushh… tadinya saya udah nahan supaya gak kentut, tapi ada yang keterlaluan bagi-bagi asap, jadi saya cuek aja. Dan saya dengar ada yang komentar, ‘tuuuut (sensor), saha ieu kentut, teu sopan pisan?!” saya sih, pura-pura bego aja, ikut-ikutan celingak-celinguk. Bahkan saya sempet liat muka orang yang merokok tadi sambil sedikit geleng-geleng kepala, seakan menuduh dia yang kentut lalu berlalu. Sempet liat air mukanya seakan bilang “bukan saya!!” puas, sudah balas dendam, he..he.he…

Nah lo, GAK SOPAN. Kalo kentut sembarangan dibilang ngga sopan, gimana dengan merokok? Padahal bau kentut, 10 detik sudah hilang. Tahan nafas 10
detik, anak saya yang 3 tahun kurang juga udah bisa. Apalagi anda?! Baunya tidak menempel pada baju ataupun rambut. Betul?! Bau kentut kalo dikumpulin malah bisa dipake lagi untuk pengganti elpiji. Gak percaya? Coba Tanya kiri-kanan, pernah denger namanya biogas? yang keluar secara alami dari kotoran sapi. Apa gak sama aja itu buntelan kentut yang dikemas ulang lalu dipake lagi?!
Bau rokok? Sedetik saja kena asap rokok, baunya nempel di baju. Bikin istri saya yang anti banget rokok bisa ganti baju 3 kali sehari hanya karena bajunya ada bau rokok. Baunya nempel di rambut. Bikin boros shampoo karena bikin harus keramas tiap hari. Kalo sehari aja ngga keramas, bantal bisa ikut-ikutan bau rokok. Bahkan rokok merk-merk tertentu, baunya sampai nempel di kulit. Contohnya merk rokok terbesar di dunia “M***b**o” (Ironisnya, he..he.., saya pernah memenangkan event petualangan jalan-jalan keluar negeri yang disponsori oleh rokok tersebut. Saya dan 3 teman saya, yang semuanya BUKAN PEROKOK). Rokok merk ini cocok untuk menghilangkan bau parfum WIL atau PIL.
Tapi jurus rahasia ini jangan dipraktekin yah.
Ini baru tentang baunya.

Bicara efek negative yang ditimbulkan.
Kentut? Paling cuma bikin sebel, setelah 10 detik baunya hilang, paling juga bikin perasaan dongkol, sialan, gak tau diri. Ngga ada kandungan berbahaya dari kentut selain aroma terapinya yang kadang sangat aduhai, apalagi kalau perut lagi kurang beres.
Rokok? He..he...he… anda semua pasti udah tau efek negative dari rokok. Ya racunnya, nikotin, tar, dan 14 ribu macam bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya, degradasi otak, penyakit paru-paru dan jantung (anda pernah bayangin gak sih, asap kok dimasukin ke paru-paru? Coba tuh asap bis diisep dalem-dalem, mau?), osteoporosis, kelainan janin, ah, banyak deh, ngga perlu berpanjang-panjang soal efek negative dari rokok, anda semua pasti udah tau dan lebih pinter dari saya. It’s all poison in there for Christ’s sake..!!!
Dan anda tahu, perokok pasif, mendapatkan bahaya lebih besar dari pada perokok aktif. Perokok pasif bukan hanya mendapat asap dari batang rokok yang masih menyala, tapi malah “ampas” asap yang sudah dihisap, “ampas”
asap yang dihembuskan kembali.

Jadi sudah tahu kan efek negative kentut dan rokok?! Mana yang berbahaya? Mana yang mematikan? Mana yang harus lebih dihindari?

Pertanyaan kedua :
Mana yang sebenarnya ngga sopan itu? Kentut? Atau merokok?
(monggo, direnungkan sejenak)
………………………………………………………………………………….

Kalo efek negative dari rokok hanya “dinikmati” oleh perokok saja. That is totally fine. What I really hate is YOU SHARE YOUR POISON WITH OTHERS.

ROKOK VS GEREJA
Nah, ini balik lagi ke judul tulisan.
Saya yakin, bahwa umat gereja kita ini sebagian besar adalah golongan yang terpelajar. Paling ngga pernah sekolah, pernah kuliah, bahkan mungkin lulusan luar negeri. Dan melihat pakaian anda, sepatu anda, jam anda,
henfon anda, motor anda, mobil anda saya yakin anda pun orang berkecukupan bahkan mungkin orang kaya. Dan lebih-lebih saya yakin anda tahu bahaya asap rokok bagi kesehatan anda. OK, fine, I don’t care with your health.
Maaf maaf aja nih, yang menurut saya keterlaluan adalah anda merokok tanpa peduli orang lain. Bahkan baru keluar pintu gereja, yang pertama diambil adalah rokok. Langsung dinyalakan bahkan saat masih berdesak-desakan di pintu keluar. Seolah-olah anda kekurangan oksigen dan hampir mati lemas.
Ini pernah saya alami di gereja Katedral. Di pintu utama, baru anak tangga pertama, seorang pemuda sudah menyulut rokoknya. Bahkan di area plaza samping yang notabene “area bebas rokok” (ada lho papan larangan merokok) sering sekali jadi area merokok.
Di gereja Karmel, masih di area peribadatan, saat umat masih bantu beres-beres bangku plastik, sudah ada yang mengepulkan asapnya sambil
ikut bantu-bantu. Saya yang lagi bantu-bantu malah buru-buru kabur bantu-bantu karena gak mau ikut bantu-bantu malah bau-bau rokok.
Di gereja Pratista, saat umat masih beriringan berjalan ke area parkir di selasar, ada juga yang berjalan sambil merokok. Asapnya itu lho, dibagi-bagi buat semua yang jalan dibelakangnya?! Coba gimana kalo saya yang kentut? Pasti mencak-mencak barisan di belakang saya.
Di gereja Pandu, saat umat lagi berbondong-bondong keluar pintu utama, ada yang lagi santai merokok di samping pintu utama sambil nelpon.

Dan yang sangat menyedihkan yang pernah saya lihat, seorang bapak, menggandeng anaknya yang kurang lebih umur 5 tahun, dan ditangan yang
sama lagi pegang rokok dan asapnya jelas-jelas melewati anak (yang malang) itu, dan si bapaknya cuek-cuek aja.
Yang lebih menyedihkan lagi, lagi-lagi seorang bapak, menggendong anaknya yang paling baru umur 3 tahun, sambil merokok. Aduh pak, kasian deh anak lu, jantung dan paru-parunya masih bersih, jangan diasapin donk…..
Dua kejadian tadi saya lihat sendiri di gereja Katedral dan satu lagi di gereja Karmel. Sayangnya ngga bawa kamera. Kalo bawa, pasti sudah saya pasang disini.

Kalau saya lihat ada bapak dan ibu naek mobil, bapak nyupir, ibu di sebelahnya, pangku anak, sambil ngerokok, kasian bener tuh anak, keterlaluan bener tuh ortu, tapi liatnya di jalan, ya udah lah, mobilnya juga
rada bobrok, paling orang bodo. Sebodo lah.
Kalau saya liat ada bapak lagi jagain anaknya yg baru belajar jalan sambil pegang rokok dan asapnya kemana-mana dan pastinya kena anaknya sendiri, tapi si bapaknya juga cuman tukang kios rokok, yah, namanya juga orang bodo, sebodo lah Kalau saya liat ada segerombolan ibu-ibu lagi makan sama
anak-anaknya sepulang sekolah sambil ngerumpi sambil rame-rame ‘ngudut’, kasian ya anak-anaknya makan siang aroma asap rokok, tapi liatnya di mall, ngga kenal ini, paling juga juga ibu-ibu muda yang masih darah muda, pengen ikut arus pergaulan atau malah cuman sok gaya dengan ngerokok, yah bodo-bodonya mereka sendiri, sebodo lah.
Kalau saya waktu itu masuk gedung sate, cari ruang perijinan untuk foto sesion di halaman gedung sate, itu ruang sama aja dengan “gas chamber” karena penuh asap rokok. Semua orang merokok kecuali ada 1 ibu yang
meja kerjanya disitu. Kasian bener tuh ibu. Dan saya dengan terang-terang nutup hidung terus dengan jaket selama berurusan di sana, sebodo lah, karena saya ngga kerja di sana.
Kalau ada temen mama saya yang meninggal karena kanker paru-paru padahal dia ngga merokok, gara-gara ruang kerja suaminya yang sama
dengan ruang tidurnya yang berAC dan suaminya selalu merokok sambil kerja, malang benar nasibmu bu, sebodo lah, asal jangan mama saya bernasib sama karena papa saya juga perokok berat.
Kalau di sekolah tempat saya mengajar, ada seorang guru yang tidak pernah saya lihat tidak merokok, merokok terus tanpa henti selama di kantor guru, selama berjalan, ketemu di WC, di area bertuliskan “area bebas rokok” dan jelas-jelas bisa terlihat oleh murid dan muridnya mulai coba-coba ngudut, mau bilang apa? Merokoknya di luar area sekolah donk, pak
Kalau di kampus tempat saya menjadi asisten dosen, justru di ruang dosen yang bertuliskan “area bebas asap rokok” menjadi “gas chamber”, dan anda tahu komentar dosen yang saya tegur? “ini kan area bebas rokok, jadi area bebas untuk asap rokok, ha…ha..ha…”. makes you look like just a bunch of intellectual idiots..

Tapi kalau di gereja? Please deh…. Ajaran gereja adalah cinta kasih. Dan cinta kasih sesama, bahkan cintailah musuhmu. Setuju? Gak, usah jauh-jauhlah sampe mencintai musuh, susah itu, Kalau anda merokok di lingkungan gereja (sebetulnya gak di lingkungan gereja aja, tapi dimanapun anda berada) dan asapnya “dibagi-bagi” sama orang lain, berarti anda tidak mencintai sesama anda, tapi anda meracuni sesama anda. Dan lebih-lebih anda meracuni orang-orang terdekat, orang-orang yang anda cintai, istri, suami, anak-anak
anda?! Setuju!?
Baru dikhotbahi pastor tentang cinta kasih, keluar gereja udah bikin dosa lagi karena meracuni orang lain. Nah lo?! Pastor, frater, Monsignor, mungkin bisa bantu jawab pertanyaan saya, dosakah bila merokok? Mungkin perlu juga Gereja mengeluarkan fatwa yang mengharamkan rokok?! He..he…he…
Saya tak sudi diracuni orang lain. Kalau saya mau meracuni diri sendiri, gak perlu repot-repot anda meracuni saya karena saya akan langsung cari racunnya dan langusng minum racunnya sampe kenyang.

So, what I’m saying is:
Kalo efek negative dari rokok hanya “dinikmati” oleh perokok saja. That is totally fine. I don’t give a damned care about you. What I really hate is YOU SHARE YOUR POISON WITH OTHERS SPECIALLY WITH YOUR LOVE ONES.

Jadi, apakah sekarang saya terdengar anti rokok? Tidak, saya tidak anti rokok, merokoklah sebanyak yang anda mau dan jangan berhenti merokok, satu aja kok, satuuuu aja permintaan saya (dan saya yakin permintaan jutaan orang lain yang tidak merokok) tolong ya pak, bu, mas, mbak, ko, cie, aa, teteh, kang, om, tante, ASAPNYA JANGAN DIBAGI-BAGI DONK, kalo bisa, asapnya telan semua, jangan dikeluarin lagi. Mau tau caranya? Setelah isap rokok, tahan napas 10 detik. Baru dihembuskan. Dijamin asap yang keluar tinggal sedikit sekali. Dan efek rokoknya maksimal, anda akan merasakan sensasi baru dalam merokok. Ada fly-fly nya sedikit dan rasanya nikmat. Kalo mau tahan 5 detik lagi, hembusan nafas anda akan bersih. Dan “manfaat” rokoknya 100% di dalam tubuh anda. Jadi anda tidak meracuni orang lain lagi.

Ingatlah kentut setiap kali anda merokok Kalau anda perokok, semoga tersadar Kalau anda perokok tidak tersadar, semoga sekeliling anda
yang tersadar. Kalau anda perokok tidak tersadar dan sekeliling anda tidak
tersadar, semoga anda tidak disekitar saya.

Behave when you fart,
behave when you smoke !!

Sekian dan terima kasih

Alphi Indiarto
Komentar, dukungan, protes, sanggahan, caci maki, email: mynextprojects@gmail.com

PS: “Saya kentut lebih sering daripada anda merokok. Dan anda tidak cium bau kentut saya kan?”
(so, please deh ah, jangan ngudut di sekitar orang yang tidak merokok)

Thursday, November 19, 2009

Horeee... $100!

Breaking news :) Paypal.Com lagi bagi-bagi duit nih di Facebook. Caranya gampang, tinggal daftar ke program Paypal Wishlist yang sedang berlangsung dan Anda akan langsung dapet earning sebesar $1. Masih kurang? Jangan khawatir, tinggal referensikan saja program tersebut ke teman-teman Anda yang lain dan untuk setiap teman Anda yang mendaftar Anda akan dapat duit sejumlah $1. Tapi jangan serakah, maksimal penghasilan yang bisa Anda peroleh adalah $100, lumayan lah buat uang makan 1 bulan. Ya tho? :)

Jadi, saya ulangi ya langkah-langkahnya:

  1. Login terlebih dahulu ke akun Facebook Anda. Gak punya Facebook, ya bikin dong. Hari gini.
  2. Masuk ke halaman promosi Paypal Wishlist.
  3. Masukkan alamat email Paypal Anda yang valid dan sudah terverifikasi melalui menu yang ada di sebelah kiri atas. Kalau gak salah tulisannya Enter Email Address. Jika belum punya akun Paypal, bikin dulu di Paypal.Com dan lakukan verifikasi menggunakan kartu kredit atau VCC.
  4. Buat wishlist Anda dengan menekan tombol Create Wishlist. Setelah selesai, Anda dapat men-share program Paypal Wishlist ini ke teman-teman Anda yang lain di Facebook.

Oh ya, sesuai dengan ketentuan mereka, maka penghasilan Anda nanti baru dapat diterima pada tanggal 28 Februari 2010. Emang masih lama sih, tapi ya gak apa-apa, anggap aja Anda sedang menabung :)

'Web


Saturday, October 17, 2009

Beneran deh, gua gak mau ke GEREJA

This is the sekuel..

Saya beneran sangat ingin menuliskan hal ini. Buat saya ini sangat penting. Bahkan teramat penting, sehingga ini bisa dibilang merupakan perenungan saya kenapa masih harus pergi ke gereja sekalipun males dan berbagai alasan lainnya.
Sebelum melanjutkannya, saya pikir anda yang membaca tulisan ini boleh sejenak membaca tulisan saya terdahulu yang dibuat hanya selang satu hari saja, supaya nyambung gitu. Soalnya bisa aja ntar anda gak ngerti apa yang saya tulis ini.

Lalu, untuk menjawab komentar-komentar atau celetukan anda-anda seperti judul di atas, mari sama-sama menyimak apa yang menjadi pergumulan saya mengenai hal ini.

Tak usah diragukan lagi, saya pernah punya alasan yang sama dengan anda semua. Kita sama-sama tokh? Masih manusia yang penuh dengan kelemahan, sekaligus juga penuh dengan karunia dan anugrah (kalo kita sadari).
Lantas, apa yang membuat saya tetap mau (kalo gak mau dikatakan terpaksa) datang ke gereja? Waw.. ini dia nih.

1. Saya ke gereja (rumah TUHAN) buat mencari TUHAN
Right, just right... but not that simple. Jawaban ini dipakai buat menjawab alasan nomor 2 di tulisan kemaren. Jawaban ini buat my side of soul yang merasa sebal kalo ke gereja teh mesti ketemu sama Pak Majelis yang kesehariannya tuh ternyata suka nggodain pembantu orang laen, atau mesti ketemu sama si pengurus komisi anu yang tukang memanfaatkan jabatan, dan lain sebagainya.
Lha kalo tiap ke gereja saya muak melihat mereka, cara satu-satunya bertahan adalah mengingat bahwa kita mencari TUHAN tokh?

2. Saya ke gereja buat bersekutu dengan temen-temen seiman.
Is it Right? Ya, betul juga. Kita ke gereja buat ketemu sama temen2 seiman. Ini buat menjawab alasan nomor 1 kemaren walau gak sepenuhnya bisa menjawab. Paling tidak justru disinilah kita harus mulai menggalinya lebih dalam.

Hasil dari perenungan saya adalah menggabungkan dua nomor di atas tersebut.

Kita ke gereja, yang adalah kumpulan orang-orang percaya yang berkumpul di suatu tempat, untuk memuji dan menyembah Tuhan.
Di gereja kita ketemu Tuhan dan ketemu sama temen2 seiman itu dong. So, dua alasan kita mesti ke gereja adalah dua pihak yang akan ketemu sama kita itu.

Kenapa kita mesti fokus ketemu Tuhan? Soalnya, waktu kita kecewa dengan sesama, sahabat kita, teman baik ataupun saudara kandung kita sendiri, Tuhan gak pernah tuh ngecewain. Iya gak? You must admit it.
Sementara kita harus ketemu dengan sesama kita supaya kita punya 'alat ukur', temen diskusi, pembanding, penyalur dan penerima berkat Tuhan.
Makin bingung ya? Begini nih.

Saya tertarik untuk menyelami apa yang dimaksud 'persekutuan'. Persekutuan, bersekutu dengan temen2 seiman. Itu sesuatu yang kita jalani, kalau saya berarti until now udah 30 tahun lebih nih bersekutu sama temen2 seiman. Tapi maybe justru baru 1 tahun belakangan ini saya lebih dan semakin mengerti arti persekutuan tersebut. Persekutuan bukan sekadar hahahihi ketemu sama si Ci Anu atau si Ko Anu, atau anak2 sekolah minggu yang ini, si aktivis, si tukang kritik, si tukang ngatur. Persekutuan disini adalah bagaimana kita belajar dan mengavaluasi diri setelah bertemu dengan temen2 seiman itu. Setelah evaluasi berulang-ulang ditambah memperbaharui hubungan terus dengan TUHAN deh, baru tuh kerasa nikmatnya datang ke gereja, nikmatnya gak pindah2 gereja, menyenangkannya menantikan hari Minggu itu datang dan sebalnya tatkala hari Minggu itu segera berakhir.

Evaluasi apa sih Lex?
Gini nih, let's say hari Minggu ini saya dateng bareng istri. Anter anak sekolah Minggu, and then karena kita berniat untuk kebaktian di sore hari, maka kita nongkrong2 aja dong di sekitar gereja. Dan, bertemulah kami dengan si Ibu Ani (Anu terus kan bosen, ganti jadi Ani deh, soalnya anakku sering mengumpamakan nama seorang ibu sebagai Ani). Ibu Ani kami sapa dan kami sedikit berbasa-basi saja menanyakan keadaannya. Eh, tak disangka tiba2 beliau curhat, seakan gak punya tempat curhat lagi di gereja ini dan kami jadi pilihannya. After that, sekalipun mungkin kita terbengong-bengong dan setengah malas juga denger keluhan orang, saya menganalisa pertemuan tersebut. Apakah Tuhan memang menyiapkan saya dan istri untuk menjadi pendengar bagi si Ibu Ani? Jawabannya pasti iya. Duh, kenapa pula saya dihadapkan dengan curhat-an yang 'membosankan'? Jawabannya, Lex. Ibu Ani cuman butuh telinga yang mau mendengar, gak perlu nasihatmu dan kau juga melakukan seperti yang seharusnya. Itu jadi berkat yang besar di hari Minggu ini buat dia.
Dan saya cuma termangu. Sadar kalau saya bersalah sekali dengan memiliki perasaan bosan atau mungkin agak kesal karena sepertinya gak ada gunanya mendengar curhat tersebut untuk saya. Andai saya gak datang ke gereja? Wah, kesempatan jadi berkat buat Ibu Ani akan melayang dong.

Evaluasi lainnya..
Saya ke gereja dan melihat si Doni yang selama ini terkenal kalo ngomong teh rohani banget. Dan kali itu juga saya baru memperhatikan dengan lebih teliti apa aja sih yang dia lakukan, atau kebiasaan dia teh gimana sih kalo lagi ikutan kebaktian. Dan hari itu bukan cuman si Doni yang saya perhatikan. Hari itu saya memperhatikan juga yang lain-lainnya. Saya merasa malu kala melihat Mas Hari yang sekalipun begitu sederhana, dia nampak begitu bersahaja. Rasanya saya malu sekali waktu membandingkan diri saya dengannya. Saya masih kesal akibat kata-kata si Joni kemarin sore yang mencaci-maki saya dengan perkara yang sebenarnya hanya perkiraan dia saja. Saya gak bisa memuji Tuhan setulus Mas Hari karena masih ada rasa dengki dalam hati saya. Di sisi lain, saya dalam hati juga mengkritik habis-habis cara si Doni beribadah. Saya tahu betul kalau dia suka mencari-cari alasan yang keliatannya rohani untuk menghindari pelayanan tertentu. Si Eni yang kemarin baru saja menelpon saya dan bilang kalau Tuhan berkehendak dia gak ikutan paduan suara lagi padahal jelas2 kalau dia cuman malas. Akh, semuanya seakan penuh berseliweran di kepala saya. Khotbah sudah tak tersimak lagi, yang ada hanya evaluasi diri. Emangnya kamu sudah sebaik apa, Lex? Pake nge-judge si Eni, si Doni segala. Lex, kalau emang mereka benar demikian, bukankah kamu punya kesempatan untuk menegur mereka dalam kasih? Dan berpuluh-puluh pertanyaan dan pernyataan lainnya Tuhan sampaikan di pikiran saya.

Jadi, apakah kita masih harus datang ke gereja? Jelas harus. Bagaimana kita mau mengukur ketaatan kita akan 2 hukum terutama? Saya rasa hukum kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu haruslah dilatih di gereja. Gereja itu training center. Saya pastikan gak mungkin lah seseorang bisa mempraktekkan 2 hukum terutama itu tanpa berlatih di training center yang namanya GEREJA. Trus, emang mesti berapa lama training di gereja? Seumur hidup, Bro, Sist!
Bukankah hidup kita berubah terus? Jaman berubah terus? Teknologi berkembang terus? Penyakit bertambah terus?
Wah, rugi lah kalo kita malah nyantai2 di rumah, nonton khotbah di tv dan berharap itu cukup untuk kita dalam menghadapi keseharian kita. Rugi juga kalau kita cuman berkata kita malu datang ke gereja karena banyak dosa, karena si Alex yang penuh dengan dosa ini pun bisa menjadi malaikat bagi Ibu Ani, si Alex juga bisa menjadi barometer buat si Doni, dia mungkin setelah melihat Alex malah terpacu untuk berbuat lebih baik lagi dalam hidupnya, atau mungkin justru dengan melihat bututnya si Alex dia jadi terpacu untuk menjaga standar kerohanian hidupnya. Inget kan kalau batu pun bisa dipakai untuk memuji Tuhan tatkala kita semua gak ada yang mau memuji Tuhan?

So, kenapa menunggu lagi? Yuk, dateng ke gereja dan bersekutulah dengan temen-temen yang kaubenci, yang kauhormati dan yang lain-lainnya.