Saturday, October 17, 2009

Beneran deh, gua gak mau ke GEREJA

This is the sekuel..

Saya beneran sangat ingin menuliskan hal ini. Buat saya ini sangat penting. Bahkan teramat penting, sehingga ini bisa dibilang merupakan perenungan saya kenapa masih harus pergi ke gereja sekalipun males dan berbagai alasan lainnya.
Sebelum melanjutkannya, saya pikir anda yang membaca tulisan ini boleh sejenak membaca tulisan saya terdahulu yang dibuat hanya selang satu hari saja, supaya nyambung gitu. Soalnya bisa aja ntar anda gak ngerti apa yang saya tulis ini.

Lalu, untuk menjawab komentar-komentar atau celetukan anda-anda seperti judul di atas, mari sama-sama menyimak apa yang menjadi pergumulan saya mengenai hal ini.

Tak usah diragukan lagi, saya pernah punya alasan yang sama dengan anda semua. Kita sama-sama tokh? Masih manusia yang penuh dengan kelemahan, sekaligus juga penuh dengan karunia dan anugrah (kalo kita sadari).
Lantas, apa yang membuat saya tetap mau (kalo gak mau dikatakan terpaksa) datang ke gereja? Waw.. ini dia nih.

1. Saya ke gereja (rumah TUHAN) buat mencari TUHAN
Right, just right... but not that simple. Jawaban ini dipakai buat menjawab alasan nomor 2 di tulisan kemaren. Jawaban ini buat my side of soul yang merasa sebal kalo ke gereja teh mesti ketemu sama Pak Majelis yang kesehariannya tuh ternyata suka nggodain pembantu orang laen, atau mesti ketemu sama si pengurus komisi anu yang tukang memanfaatkan jabatan, dan lain sebagainya.
Lha kalo tiap ke gereja saya muak melihat mereka, cara satu-satunya bertahan adalah mengingat bahwa kita mencari TUHAN tokh?

2. Saya ke gereja buat bersekutu dengan temen-temen seiman.
Is it Right? Ya, betul juga. Kita ke gereja buat ketemu sama temen2 seiman. Ini buat menjawab alasan nomor 1 kemaren walau gak sepenuhnya bisa menjawab. Paling tidak justru disinilah kita harus mulai menggalinya lebih dalam.

Hasil dari perenungan saya adalah menggabungkan dua nomor di atas tersebut.

Kita ke gereja, yang adalah kumpulan orang-orang percaya yang berkumpul di suatu tempat, untuk memuji dan menyembah Tuhan.
Di gereja kita ketemu Tuhan dan ketemu sama temen2 seiman itu dong. So, dua alasan kita mesti ke gereja adalah dua pihak yang akan ketemu sama kita itu.

Kenapa kita mesti fokus ketemu Tuhan? Soalnya, waktu kita kecewa dengan sesama, sahabat kita, teman baik ataupun saudara kandung kita sendiri, Tuhan gak pernah tuh ngecewain. Iya gak? You must admit it.
Sementara kita harus ketemu dengan sesama kita supaya kita punya 'alat ukur', temen diskusi, pembanding, penyalur dan penerima berkat Tuhan.
Makin bingung ya? Begini nih.

Saya tertarik untuk menyelami apa yang dimaksud 'persekutuan'. Persekutuan, bersekutu dengan temen2 seiman. Itu sesuatu yang kita jalani, kalau saya berarti until now udah 30 tahun lebih nih bersekutu sama temen2 seiman. Tapi maybe justru baru 1 tahun belakangan ini saya lebih dan semakin mengerti arti persekutuan tersebut. Persekutuan bukan sekadar hahahihi ketemu sama si Ci Anu atau si Ko Anu, atau anak2 sekolah minggu yang ini, si aktivis, si tukang kritik, si tukang ngatur. Persekutuan disini adalah bagaimana kita belajar dan mengavaluasi diri setelah bertemu dengan temen2 seiman itu. Setelah evaluasi berulang-ulang ditambah memperbaharui hubungan terus dengan TUHAN deh, baru tuh kerasa nikmatnya datang ke gereja, nikmatnya gak pindah2 gereja, menyenangkannya menantikan hari Minggu itu datang dan sebalnya tatkala hari Minggu itu segera berakhir.

Evaluasi apa sih Lex?
Gini nih, let's say hari Minggu ini saya dateng bareng istri. Anter anak sekolah Minggu, and then karena kita berniat untuk kebaktian di sore hari, maka kita nongkrong2 aja dong di sekitar gereja. Dan, bertemulah kami dengan si Ibu Ani (Anu terus kan bosen, ganti jadi Ani deh, soalnya anakku sering mengumpamakan nama seorang ibu sebagai Ani). Ibu Ani kami sapa dan kami sedikit berbasa-basi saja menanyakan keadaannya. Eh, tak disangka tiba2 beliau curhat, seakan gak punya tempat curhat lagi di gereja ini dan kami jadi pilihannya. After that, sekalipun mungkin kita terbengong-bengong dan setengah malas juga denger keluhan orang, saya menganalisa pertemuan tersebut. Apakah Tuhan memang menyiapkan saya dan istri untuk menjadi pendengar bagi si Ibu Ani? Jawabannya pasti iya. Duh, kenapa pula saya dihadapkan dengan curhat-an yang 'membosankan'? Jawabannya, Lex. Ibu Ani cuman butuh telinga yang mau mendengar, gak perlu nasihatmu dan kau juga melakukan seperti yang seharusnya. Itu jadi berkat yang besar di hari Minggu ini buat dia.
Dan saya cuma termangu. Sadar kalau saya bersalah sekali dengan memiliki perasaan bosan atau mungkin agak kesal karena sepertinya gak ada gunanya mendengar curhat tersebut untuk saya. Andai saya gak datang ke gereja? Wah, kesempatan jadi berkat buat Ibu Ani akan melayang dong.

Evaluasi lainnya..
Saya ke gereja dan melihat si Doni yang selama ini terkenal kalo ngomong teh rohani banget. Dan kali itu juga saya baru memperhatikan dengan lebih teliti apa aja sih yang dia lakukan, atau kebiasaan dia teh gimana sih kalo lagi ikutan kebaktian. Dan hari itu bukan cuman si Doni yang saya perhatikan. Hari itu saya memperhatikan juga yang lain-lainnya. Saya merasa malu kala melihat Mas Hari yang sekalipun begitu sederhana, dia nampak begitu bersahaja. Rasanya saya malu sekali waktu membandingkan diri saya dengannya. Saya masih kesal akibat kata-kata si Joni kemarin sore yang mencaci-maki saya dengan perkara yang sebenarnya hanya perkiraan dia saja. Saya gak bisa memuji Tuhan setulus Mas Hari karena masih ada rasa dengki dalam hati saya. Di sisi lain, saya dalam hati juga mengkritik habis-habis cara si Doni beribadah. Saya tahu betul kalau dia suka mencari-cari alasan yang keliatannya rohani untuk menghindari pelayanan tertentu. Si Eni yang kemarin baru saja menelpon saya dan bilang kalau Tuhan berkehendak dia gak ikutan paduan suara lagi padahal jelas2 kalau dia cuman malas. Akh, semuanya seakan penuh berseliweran di kepala saya. Khotbah sudah tak tersimak lagi, yang ada hanya evaluasi diri. Emangnya kamu sudah sebaik apa, Lex? Pake nge-judge si Eni, si Doni segala. Lex, kalau emang mereka benar demikian, bukankah kamu punya kesempatan untuk menegur mereka dalam kasih? Dan berpuluh-puluh pertanyaan dan pernyataan lainnya Tuhan sampaikan di pikiran saya.

Jadi, apakah kita masih harus datang ke gereja? Jelas harus. Bagaimana kita mau mengukur ketaatan kita akan 2 hukum terutama? Saya rasa hukum kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu haruslah dilatih di gereja. Gereja itu training center. Saya pastikan gak mungkin lah seseorang bisa mempraktekkan 2 hukum terutama itu tanpa berlatih di training center yang namanya GEREJA. Trus, emang mesti berapa lama training di gereja? Seumur hidup, Bro, Sist!
Bukankah hidup kita berubah terus? Jaman berubah terus? Teknologi berkembang terus? Penyakit bertambah terus?
Wah, rugi lah kalo kita malah nyantai2 di rumah, nonton khotbah di tv dan berharap itu cukup untuk kita dalam menghadapi keseharian kita. Rugi juga kalau kita cuman berkata kita malu datang ke gereja karena banyak dosa, karena si Alex yang penuh dengan dosa ini pun bisa menjadi malaikat bagi Ibu Ani, si Alex juga bisa menjadi barometer buat si Doni, dia mungkin setelah melihat Alex malah terpacu untuk berbuat lebih baik lagi dalam hidupnya, atau mungkin justru dengan melihat bututnya si Alex dia jadi terpacu untuk menjaga standar kerohanian hidupnya. Inget kan kalau batu pun bisa dipakai untuk memuji Tuhan tatkala kita semua gak ada yang mau memuji Tuhan?

So, kenapa menunggu lagi? Yuk, dateng ke gereja dan bersekutulah dengan temen-temen yang kaubenci, yang kauhormati dan yang lain-lainnya.

Friday, October 16, 2009

Gua gak mau ke GEREJA

Heiii..
judul yang hmmm..

Setelah beberapa lama, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan saja hal ini.
Pikiran saya selalu terusik tatkala saya mengajak atau menanyakan kepada teman atau relasi saya mengenai pergi ke gereja dan mendapatkan jawaban tersebut seperti judul tulisan ini. Gua gak mau ke gereja.

Kenapa?
1. Gua gak mau ke gereja, Lex. Malu sama TUHAN, gue bikin dosa terus.
Alasan yang sangat manusiawi. Alasan yang sangat sering juga saya denger. Mostly, banyak banget di antara kita semua yang suka malu kalo dateng ke gereja karena kemarin baru ngebohongin pelanggan, atau tadi malem baru masturbasi sambil ngintipin situs porno di internet, atau 2 hari yang lalu baru caci maki pegawai di pekerjaan kita yang kerjanya gak becus, atau banyak hal lainnya. Anda salah satunya kan?

2. Gua gak mau ke gereja, Lex. Abis, gue males liat elu. Munafik.
Hmm, percaya atau tidak hal ini emang ekstrim, emangnya ada yang ngomong terang2an begitu? Tentu ada. Tapi kebanyakan sih yang lebih halus lah. Misalnya, males lihat si Ibu Budi yang kemaren baru nipu saya 15 juta rupiah, atau merasa terganggu lihat pak penginjil yang khotbahnya sama sekali gak mencerminkan kehidupan pribadinya, atau gak suka melihat si Doni yang sok-sokan ngatur di gereja seakan-akan gereja tu milik dia, dan lain sebagainya.

3. Gue males ke gereja, karena emang males. Nah yang ini sih speechless. Sok-sokan Phlegmatik ah.

Alasan-alasan lain malas ke gereja atau gak mau ke gereja akan saya golongkan ke nomor tiga aja, karena buat saya yang paling penting justru alasan pertama dan kedua.

Lantas? gimana dong kelanjutanyya? Kenapa sih saya mau nulis soal ini?

To be continued ya... very soon.