Saturday, May 30, 2009

Kekalahan Man. United atas dirinya sendiri

Menarik sekali tatkala kita mencermati pertandingan Kamis dinihari yang lalu, saat keperkasaan FC Barcelona dapat mengalahkan tembok Manchester United yang kokoh. Sebagai pendukung Manchester United sejak 1989, tentu saya juga menjadi salah satu yang kecewa atas hasil pertandingan ini, namun demikian, melihat kualitas pertandingan ROMA FINALE 2009 ini saya harus mengakhiri kekecewaan saya.
Saya nggak mencoba menganalisis pertandingan secara mendetail, tetapi saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa MU kalah atas dirinya sendiri.
Sebenarnya MU tidak mengawali pertandingan dengan jelek. Mereka berusaha mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu. Saya teringat analisis BOLA bahwa dalam banyak kesempatan, gol MU terjadi di awal pertandingan. Tentu jika mereka bisa mencetak gol sedini mungkin, skenario permainan akan menjadi skenario yang diidam-idamkan oleh seluruh penggemar MU. Celakanya yang terjadi malah sebaliknya, MU kebobolan terlebih dahulu.






Sejak kedua tim – Barcelona dan MU - lolos ke final, skenario yang diinginkan oleh pendukung MU tentunya adalah Barcelona menyerang terus menerus, sementara MU bertahan mengandalkan Twin Tower-nya, Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic untuk kemudian dengan satu dua sentuhan menghantam pertahanan Barcelona yang dinilai lemah akibat absennya Rafael Marquez, Eric Abidal dan Dani Alves. Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney dan Park Ji Sung kelihatannya di-plot untuk menjalani peran demikian.
Namun malang tak dapat ditolak, Barcelona dengan filosofi sepakbola menyerangnya mampu membongkar kehebatan Ferdinand dan Vidic hanya dalam tempo 10 menit. Sejak 1988, saya termasuk penikmat Total Football timnas Belanda, dan kali ini Barcelona yang memperagakannya. Mereka berusaha menguasai bola selama mungkin. Aliran bola yang terstruktur dengan jelas antar lini, membuat MU menjadi salah tingkah, operan-operan mereka macet dan kala kehilangan bola, mereka terlalu lama menunggu, seolah terpana melihat umpan-umpan pendek Los Azulgrana yang mengalir deras ke titik-titik pertahanan MU. Di sinilah saya pikir MU sangat merindukan kehadiran Darren Fletcher yang biasanya berperan jadi perusak serangan lawan. Michael Carrick bukannya bermain buruk, namun seorang diri menahan kreatifitas Andres Iniesta dan Xavi saya rasa menjadi suatu hal yang mustahil, apalagi Anderson beda style dengan Fletcher. Jadi Xavi dan Iniesta betul2 leluasa mengatur ritme pertandingan yang sepenuhnya dikuasai oleh Barcelona malam itu.
Kejelian Pep Guardiola untuk menggeser Carles Puyol ke bek sayap kanan dan menaruh harapan pada Sylvinho yang sudah mulai tua di kiri, ternyata mampu meredam kecepatan sayap-sayap MU yang saat itu benar2 kesulitan karena tidak mendapat suplai bola yang baik dari tengah.
Gol Lionel Messi seolah menjadi penegasan bahwa kekuatan utama MU di lini pertahanan justru menjadi kelemahan serius di ROMA Finale 2009 ini. Messi yang bertubuh pendek dapat mencetak gol melalui sundulan kepala!
Jadi, senjata MU benar-benar dibuat macet. Keinginan untuk memaksakan 2 skenario – pertama, unggul lebih dahulu lalu bertahan dan menambah kemenangan melalui serangan balik dan kedua bertahan sambil memanfaatkan momen-momen akhir pertandingan untuk membunuh – sama sekali tidak bisa dilakukan. Kali ini memang kelemahan MU justru ada di kekuatannya, dengan kata lain, MU kalah atas dirinya sendiri.